RSS

Cerpen: Penyesalan

Cerita ini hanyalah fiksi karangan belaka!
Penyesalan
Oleh : Ariesca Devy T.




       Alunan denting piano terdengar samar-samar dari gedung seberang. Aku tahu siapa yang memainkannya, aku sangat mengenal nada-nada itu yang selalu dia mainkan setiap harinya dalam setiap lirikan diamku memerhatikannya dari kejauhan. Tapi, bukankah saat ini sedang berlangsung kelas matematika?
       “Kau membolos?” sergapku langsung menanyainya saat ku temukan dia di dalam sana sedang memainkan jari-jarinya di tuts hitam-putih piano itu. Benar, itu dia.
       Dia hanya menyunggingkan bibirnya sebelah ke atas tanpa wajahnya menoleh ke arahku sedikitpun. Rupanya dia sedang mengejekku lagi, pikirku.
       Aku terdiam mematung tepat di depannya, dia masih memainkan nada-nada halus di tuts piano itu, kebetulan.. itu adalah lagu favoritku.
       “Kau belum menjawab pertanyaanku” sergapku lagi yang mulai kesal. Dia selalu begitu saat bertemu denganku, dia selalu menganggapku remeh dan seperti anak kecil, dan jujur aku membenci sifatnya yang seperti itu. Dan sialnya, aku harus bertemu dan bertatap muka dengannya setiap hari, andai saja aku bisa mengatur kelasku tanpa dia…
       Dia berhenti memainkan jari-jarinya di tuts piano dan memandangku, sejenak kita hanya diam dan saling berpandangan. Dan saat itulah, aku merasakan desir aliran darahku menjadi dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan matanya, mata itu… mata hitam yang redup itu… selalu membuatku tenang.
       “Idiot” ucapnya singkat.
       Dia bangkit dari kursi piano dan berjalan pelan ke arah jendela dan membukanya. Aku mengikutinya dari belakang. Tentu aku masih kesal dengan perkataan singkatnya tadi. Meskipun dia sudah sering dia berkata seperti itu kepadaku, sudah terlalu sering, bahkan setiap hari, aku tak pernah marah padanya, aku tak pernah membencinya....
       “Apa maksudmu?” tanyaku berusaha mencari jawaban atas perkataannya tadi. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu betul apa maksudnya.
       Dia masih membisu, seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya sehingga membuatnya kesulitan untuk mengeluarkan suara.
       “Kau mau minum?”  ucapnya menawarkan sekaleng minuman soda. Dia hanya menyodorkan kaleng itu di sampingnya, tanpa menoleh kebelakang ke arahku sedikitpun. Aku tak sempat berpikir dari mana ia dapatkan minuman itu.
       “Kemarilah, jangan hanya berdiri mematung di belakang sana. Pemandangan dari sini lebih menyejukkan daripada kau hanya memandang ke arah punggungku yang mempesona. Aku tahu, aku memang terlihat menawan di mata wanita…”
       Apa katanya tadi? Ck! Secepat kilat aku menyambar kaleng soda yang tadi ia tawarkan kepadaku. Sebelum dia lebih jauh mengatakan hal-hal gila lainnya. Dan aku, berdiri di sampingnya… memandang ke arah luar jendela. Danau…
       Semilir angin ku rasakan membelai lembut wajah kami berdua, aku dan dia. Apa aku sedang bermimpi? Jika pun ini mimpi, tolong.. biarkan aku menikmati mimpi indah ini sejenak.
       “Kenapa kau seperti ini? Bukankah kau pintar dalam hal pelajaran? Kau tahu? Kau terlalu polos, sungguh” ucapnya memulai percakapan. Entah, aku tak mendengar suaranya yang biasa aku dengar setiap harinya, apa ini hanya imajinasi? Tapi, aku lebih senang mendengar cara dia berbicara seperti ini kepadaku, lebih halus, dan menenangkan.
       Aku tak membalas ucapannya, menunggu dia melanjutkan ucapannya, terlalu sibuk dalam buaian suaranya yang membuatku tenang dan damai.
       “Aku tak membolos, aku hanya… meninggalkan kelas sejenak, disana terlalu ramai dan itu membuatku pusing. Jadi aku memilih ke tempat ini untuk menenangkan pikiran, disini adalah tempat favoritku…”
       Lagi, aku mendapatkan informasi yang penting tentangnya, dan langsung dari mulutnya. Tempat favorit, ruang seni musik. Aku akan mencatatnya dalam memoriku otakku. Dan aku akan selalu mengingat momen ini, Ruang Seni Musik, sekaleng minuman soda, jendela, dan danau.
       “Hey kenapa kau hanya diam saja? Oh iya, lalu… bukankah kau sendiri juga meninggalkan kelas? Hahaha” ucapnya tertawa mengejekku lagi. Dia mengacak-acak poniku, rambutku yang panjang terurai ke belakang karena hembusan angin yang cukup kencang dari luar.
       Sungguh, ini sungguh berbahaya. Ini bisa membuatku terkena serangan jantung karena bahagia yang berlebihan ku rasakan. Tolong hentikan waktu ini, saat ini, biarkan aku tetap tertidur…
       “Aku, aku… aku hanya.. yah sebenarnya aku hanya penasaran mendengar suara denting piano yang terdengar samar-samar, dan saat aku memeriksanya, ternyata itu kau…” ucapku agak sedikit tergagap, aku pun heran apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku.
       “Kau tahu, alasanmu cukup masuk akal…” ucapnya diselingi dengan tawanya yang gurih, dia berusaha mengacak-acak poniku lagi. Tentu kali ini aku menepis tangannya, aku benci ini… tahu kan seorang wanita sangat memperhatikan penampilannya, susah untuk merapikannya lagi.
       Dan pada saat itu, sejenak tangan kami menggenggam satu sama lain. Saat aku menyadarinya,… entah, aku melepaskan tanganku dengan cepat. Dia terkejut.
       “Bukankah kau menyukainya? Saat aku menggenggam tanganmu untuk pertama kalinya, waktu itu…” ucapnya seraya menatap dalam ke arah mataku. Lagi, matanya yang redup itu selalu berhasil membuatku tertunduk, aku bahkan tak kuasa menatap matanya untuk waktu yang lama.
       “Tidak, kau salah. Waktu itu kita hanya sedang bermain peran, tidak lebih. Sungguh. Waktu itu aku sedang sial mendapatkan peran sebagai Cinderella, dan kau pun menjadi pangerannya. Itu hanya sebagian kecil drama untuk mendapatkan nilai bagus dalam kelas seni peran, bukan? Tidak lebih” ucapku berusaha menyembunyikan raut wajahku yang mungkin sudah terlihat memerah seperti tomat. Tapi, belum sempat aku berpikir… apakah perkataanku tadi terlalu pedas dan menyakiti hatinya?
       Dia tersenyum, seperti sedang memikirkan sesuatu.
       “Lalu, kenapa kau selalu tersenyum dan tampak ceria saat di depanku? Apakah kau menyukaiku?”
       Deg!
       Apakah dia gila? Segampang itukah menanyakan perasaan seseorang terhadapnya? Sungguh, ini sangat menggeikan sekaligus memalukan. Apakah aku terlihat sejelas itukah untuk menyukainya? Menyukai setiap saat dia bertingkah konyol dan bodoh dan terlihat kekanakkan? Sekuat inikah sinyal yang berusaha ku sembunyikan namun terlihat seperti teka-teki mudah untuknya?
       “Mm… Tentu tidak, kau terlalu percaya diri untuk ini, hahaha” entah, tawaku terdengar memaksa.
       Ku lihat dari sudut mataku raut wajahnya berubah menjadi murung seketika, itu sangat jelas. Aku mengutuk ucapanku tadi dan berharap bisa menarik perkataanku tadi, sungguh.. itu bukan aku. Dan sebagian diriku merasa ada yang berat, seolah ada yang menguap begitu saja di dalam sana, ya... Memang… penyesalan selalu datang di akhir.