Cerpen ini terinspirasi dari lagu JKT48 - River
Sungai
Impian
Oleh : Ariesca Devy
Suara
gemricik air terasa mengalir lembut di gendang telinga dan perlahan menabrak tembok-tembok
bebatuan kerikil dan lempung yang terlihat jernih, tampak dari jauh airnya
bening bagaikan cermin yang memantulkan cahaya keindahan bagi siapapun yang
melihatnya. Ikan-ikan kecil yang menari-nari pun tak akan luput dari pandangan,
jelas nampak terpancar dari bola mata sosok yang melihatnya, bak seorang penari
hebat yang sedang pentas di atas panggung.
Ia duduk terdiam disana, dipinggir
aliran air yang terus berjalan tiada henti menuju pelabuhan terakhir, ia duduk
diatas bongkahan batu besar sungai yang keras dan dingin. Matanya tertuju pada
ikan-ikan kecil yang menari-nari itu, pikirannya berterbangan entah kemana.
Apakah ikan itu akan terbawa arus? Atau apakah ikan itu selamanya akan mampu
bertahan disana? Sama seperti dirinya, apakah ia akan terbawa arus kehidupan
ini? Atau apakah ia mampu bertahan? Entahlah, takdir manusia tak ada yang tau,
tak ada yang mampu menebak dengan benar ending kehidupan seorang manusia, hidup
tak selamanya happy ending.
Tiba-tiba saja sesuatu benda
bergetar di dalam sakunya, membuyarkan segala lamunannya, segera ia
mengambilnya dan melihat apa yang bergetar itu. Ponselnya bergetar, ternyata
ada pesan masuk.
“Al, kamu dimana? Cepat
pulang, cepat atau lambat kamu harus selesaikan masalahmu dan kejarlah mimpimu
itu!” ia menghembuskan napas pelan, ia tahu benar ada
seseorang yang masih mendukungnya, masih mampu menuntunnya berjalan perlahan
melewati arus, masih mampu menggandeng tangannya dan dengan sabar melindunginya
dari segala ancaman dan bahaya, yaitu kakaknya.
Almandita
Putri, gadis cantik berjilbab yang juga anak dari seorang pejabat negara, ia
adalah anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya yang bernama Alvia berbeda lima
tahun darinya adalah seorang gadis berjilbab juga yang kini sudah lulus kuliah
dan sudah sukses dalam pekerjaan atas hasil jerih payahnya sendiri.
***
“Bagaimanapun
juga Alma anak kita, Pa. Kita masih punya kewajiban untuk merawatnya dan memenuhi
kebutuhannya..” ucap seorang wanita paruh baya berusaha menenangkan amarah
suaminya yang meledak.
“Dia
anakku, anak kita.. tetapi dia tak mau menuruti nasihat kita, Ma. Biarkan saja,
terserah apa mau dia. Dia kira gampang mencari pekerjaan tanpa harus kuliah dan
mengeyam pendidikan, dia sudah aku rawat dari kecil dan aku penuhi segala
kebutuhannya, tapi apa?! Apa kata mereka kalau tau anak kita seperti ini,
bahkan tak ada rasa terimakasih, sekarang terserah dia!” amarah seorang lelaki
paruh baya itu meledak setelah mendengar cerita dari istrinya bahwa anak
bungsunya tak mau kuliah dan lebih memilih berusaha bekerja sendiri.
Alma
menyandarkan punggungnya dibalik pintu kamarnya yang tertutup, ia menguping
pertengkaran kedua orangtuanya yang dikarenakan oleh dirinya sendiri, ia sudah
muak dengan kemauan ayahnya yang menuntutnya untuk melanjutkan kuliah jurusan
hukum. Ia tak ingin seperti ayahnya yang terjerumus ke dalam dunia politik,
dunia yang dianggapnya adalah dunia yang penuh dengan pembohongan rakyat.
“Sudahlah
Al, kakak percaya kamu bisa melewati ini semua, ini hanyalah sebagian kecil
ujian Allah untuk membuatmu menjadi kuat..” ucap Alvia menenangkan adik
kesayangannya.
Alma
berjalan menjauhi pintu kamarnya dan duduk diatas kasur, “Aku gak mau seperti
Papa kak, aku gak mau terjerumus seperti Papa yang korupsi..” ucap Alma lemas.
“Aku
ngerti Al, aku juga sebenarnya gak mau dulu ambil jurusan hukum. Tapi tak
apalah, insyaallah kakak coba menjalaninya dengan positif dan halal. Sekarang
mari kakak bantu kamu, kejarlah impianmu itu Al.. impianmu yang sangat mulia itu..” ucap Alvia memberi
semangat kepada adiknya itu.
***
Aliran air yang
membentang panjang bagaikan cacing diatas permukaan bumi itu selalu mengalir,
apapun keadaannya, apakah musim hujan ataupun kemarau tetap sungai adalah
sumber kehidupan dan juga terkadang bisa juga sebagai musibah dan bencana di
muka bumi ini.
Sama saja seperti
hidupku ini, ibarat sungai adalah penghalang, sungai adalah takdir, sungai
adalah jalan yang membentang panjang dan berkelok-kelok, sungai adalah
kehidupan. Ibarat sungai adalah jalan panjang
berkelok yang membentang, menghalangiku, sungai adalah ujianku, apakah
aku bisa menyeberangi sungai itu atau tidak.
Tergantung bagaimana
aku menghadapinya, semoga Allah memberikan
petunjuk untuk hambaNya, bisa saja sungai itu menghanyutkanku, menenggelamkanku
jika aku tak bisa melewatinya. Tapi aku tak boleh lemah, aku tak boleh
menyerah, aku harus yakin, bahwa tepian itu pasti ada. Walaupun gelap dan
dalam, walaupun arusnya deras, aku tidak harus ketakutan untuk melwatinya.
Alma
menutup buku catatannya, buku yang setiap saat dibawanya kemana-mana, ia selalu
mencurahkan segala apa yang ada di dalam pikirannya dan ditulisnya ke dalam
sebuah tulisan di dalam bukunya itu.
“Kak
Alma, ini gimana bacanya?” seorang bocah kecil berumur sekitar lima tahunan
menarik-narik kain rok yang dipakai Alma. Ia terlihat sangat lucu dan
menggemaskan.
Dengan
lembut dan penuh sabar Alma mengajarkan semuanya, dengan senyum dan ramah ia
menngajarkan cara membaca dan menulis kepada adik-adik kecil itu. Ya, inilah
pekerjaannya, inilah impiannya. Ia sedang mengajar di sekolah buatannya,
sekolah yang sangat sederhana di sebuah surau kecil di tengah-tengah sawah
pedesaan untuk anak-anak kecil yang kurang mendapatkan pendidikan.
Surau
kecil yang terbuat dari bambu itu selalu penuh oleh anak-anak kecil, dengan
semangat mereka datang ke tempat itu, meninggalkan waktu bermain mereka untuk
sementara untuk belajar dan menuntut ilmu. Mereka tak pernah mendapatkan pendidikan,
di daerah mereka tak ada sekolah, tak ada yang peduli, semua warganya sebagian
besar bermata pencarian sebagai butuh tani. Dan anak-anak kecil setiap harinya
dituntut orang tua mereka untuk membantu bekerja, maka dari itu Alma terdorong
untuk membangun sekolah disana, walaupun sederhana.
***
Sebuah
mobil mewah berwarna putih mengkilat itu terparkir di pelataran rumah mewah
itu, tampak di dalamnya sopir yang berpenampilan rapi, juga seorang yang berpenampilan rapi dan
gagah keluar dari dalam mobil itu.
Alma
yang sedang membaca buku di taman depan rumah tergugah dirinya, ia mengenali
siapa orang yang baru saja turun dari mobil itu, seseorang itu sangat tidak
asing baginya.
Seseorang
itu menghampiri Alma yang sedang berdiri dari bangku taman itu, Alma tahu benar
siapa orang itu dan untuk siapa dan untuk apa orang itu kemari.
“Oh,
Alma? Wah ternyata kamu sudah besar ya sekarang, saya jarang bertemu kamu kalau
kesini. Papa ada di rumah?” dengan gayanya yang santai seseorang itu bertanya
kepada Alma.
“Ada
Paman, mari masuk..” Alma berusaha sopan dan terlihat manis di depan adik
kandung Ayahnya itu. Sebenarnya dalam hatinya ia kesal jika pamannya itu satang
ke rumahnya. Karena orang itu lah yang membuat Ayahnya menjadi seperti ini,
pamannya itulah yang memaksa dan mempengaruhi Ayahnya untuk bertindak kejahatan
dalam dunia politik.
Orang
itu dan Alma sudah memasuki rumah mewah dan besar itu. Pamannya itu duduk,
sedangkan Alma masuk ke dalam untuk memanggil Ayahnya dan menyiapkan minuman.
Selang waktu sebentar Ayahnya sudah duduk disamping pamannya itu, mereka tampak
santai dan tidak bersikap sopan atau formal.
“Bagaimana
uang yang kemarin rud? Sudah cukup kah? Atau masih kurang, kalau masih kurang
kamu bisa ambil sesukamu seperti kemarin, haha” ucap paman tadi dengan
santainya.
“Cukup
lah, Bang. Masih sangat cukup, terimakasih bang atas tawarannya, ini namanya
pejabat yang sesungguhnya, untung lumayan. Tapi aku masih agak takut Bang kalau
ketahuan..”
“Inilah
gunanya Abang, aku sebagai abangmu sepatutnya membantumu, ini namanya bonus
sebagai pejabat. Halah, bukan adikku namanya Rudi Wibowo kalau takut dengan
KPK, santai sajalah..”
Alma
yang sedang menyiapkan minuman mendengar percakapan Ayahnya dengan pamannya,
sebenarnya ia sangat kesal, marah, sedih, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia
berusaha terlihat biasa dan mengantarkan minuman untuk Ayahnya dan Pamannya.
“Wah,
terimakasih Alma. Mau lanjutin kuliah dimana ini? Mau nerusin Papa kamu ya..”
sapa paman Alma.
“Halah,
dia anak tak bisa di atur. Dia tak mau kuliah, Bang. Mau jadi apa kamu Al kalau
gak mau nurut orangtua. Aku sudah muak, terserah dia mau jadi gembel atau
apa..” ucap Ayah Alma dengan nada marah.
“Justru
Papa itu yang harus berhenti korupsi! Korupsi itu dosa! Aku ga mau makan uang
haram!” balas Alma dengan mata memerah karena menahan tangis.
“Kamu
itu tau apa?! Kamu gak tau apa-apa jangan ikut campur urusan orangtua! Kamu
enak tinggal makan saja protes, ini namanya bisnis!” balas Ayah Alma dengan
emosi.
Alma
yang mendengarnya merasa tersinggung, buliran-buliran air bening terasa ingin
menyeruak, ia berusaha terlihat tenang dan berjalan ke dalam kamarnya. Ia
menutup pintu kamarnya dengan kencang dan saat itu juga buliran-buliran air
bening tu menetes dengan derasnya dari pelupuk matanya.
***
Sungai itu terlihat
tenang jika di lihat dari luar, tapi apakah kita tahu di dalam sungai itu
arusnya begitu deras dan lebih kuat. Mungkin orang yang melihatnya akan menilai
ikan yang berenang di dalam sungai itu selalu tenang dan aman. Betapa
tersiksanya ikan-ikan kecil itu yang berada di dasaran sungai, ia harus
berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan dibawah tekanan yang besar, ia tak
bisa bebas.
Aku ingin bebas, aku
harus bisa seperti ikan-ikan kecil itu. Mereka kuat, mereka mampu bertahan
dibawah tekanan dan arus yang kuat. Aku harus bisa, aku pasti bisa melewati
sungai ini, melewati arus ini, aku pasti bisa sampai ke tepian!
Alma
menutup buku catatannya perlahan. Ia selalu mencurahkan segala pikirannya ke
dalam buku itu, ia tak bisa mencurahkan pikirannya kepada orang lain, kepada
siapakah? Ini tentang masalah pribadi keluarganya, tak mungkin ia bercerita
kepada orang lain.
Tiba-tiba
saja seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar dan masuk ke dalam kamarnya,
Alvia.
“Kamu
kenapa Al?” tanya Alvia lembut dan turut duduk diatas kasur bersama adiknya.
“Aku
udah ga kuat kak sama Papa, Papa jahat kak. Kenapa dia harus ngelakuin hal
jahat itu, kita makan uang haram kak..” ucap Alma dengan tersedu-sedu.
“Sabar
Al, ini ujian Allah. Mungkin Papa lagi dihasut syetan, dia ga mau dengerin
ucapan kita. Mama sebenernya juga takut Al, tapi kita semua gak bisa berbuat
apa-apa.” Balas Alvia masih menenangkan adiknya.
Tiba-tiba
saja entah dari pikiran mana, Alma mengutarakan hal yang selama ini dipendamnya.
“Kak, bagaimana kalau kita melaporkan Papa ke KPK?”
Ceklek...
Tiba-tiba
saja pintu kamar Alma terbuka, saat itu juga muncul sosok lelaki paruh baya
dibalik pintu itu. Ternyata itu adalah Ayah Alma. Alma bingung, kaget, takut,
ia bingung harus berbuat apa.
“Jadi
begini kelakuan anakku? Anak yang selama ini aku didik dan aku besarkan dari
kecil, tapi balasannya seperti ini? Dasar anak kurang ajar..”
Sebuah
tangan yang kekar dan kuat hendak melayang akan mendarat di pipi mulus Alma,
namun sebuah tangan lain menahannya dari belakang, dan ternyata itu adalah
pihak polisi.
***
Alma
bersama kakak dan ibunya menjenguk ayahnya yang berada di balik jeruji besi.
Perasaannya campur aduk, ia senang karena saat ini ayahnya sudah sadar dan
ayahnya meminta maaf kepada seluruh anggota keluarga, tetapi itu semua sudah
terlambat, tak akan ada perubahan hanya dengan permintaan maaf.
Masalah
kasus Ayah Alma itu ternyata sudah lama tercium oleh KPK, dan kawan kerjanya
sendiri lah yang ternyata melaporkan kasus itu.
Dan
kini, Alma sudah direstui oleh ayahnya untuk melanjutkan impiannya. Saat ini
sudah terbangun sebuah sekolah di tempat mengajarnya dulu, sebuah sekolah yang
lebih layak dan lebih baik dari sebelumnya.
Banyak
bertambah anak-anak yang bersekolah disana, kini Alma dan kakaknya juga ikut
mengajar disana, bersama dengan guru-guru pengajar sukarelawan lainnya.
“Kepada
Ibu guru memberi salam..”
“Selamat
siaang buu..” ucap anak-anak asuhannya serentak mengucapkan salam, hari itu ia
selesai mengajar. Mengajar dengan sukarela kepada anak-anak yang kurang
mendapatkan pendidikan, ia ingin mencerdaskan bangsa ini.
Ternyata benar,
ikan-ikan kecil itu hanya perlu bersabar, di saat tenaganya sudah terkuras
habis dan ia sangat lemah untuk melanjutkan perjalanan ke tepian. Ia hanya
perlu bersabar, menunggu sampai arus itu reda, baru bisa melewati sungai itu
dan tiba di tepian dengan selamat.
-Tamat-