RSS

Sepenggal Cerpen

***
Denting suara pemukul yang bersentuhan renyah denga pentulan permukaan berwarna emas bulat mengkilat seolah-olah membawanya kembali ke masa lalu, dimensi waktu yang dulu pernah bergulir kini seakan dimainkan kembali di dalam trilyunan sel seperti memutar sebuah film lawas di dalam otaknya.
Suara indah nan merdu serasa sangat memanjakan telinga, ditambah dengan alat-alat lainnya yang turut bersautan berlomba-lomba menampakkan dirinya bergabung menjadi suatu keselarasan musik klasik bernama gamelan.
Ia tengah tersenyum di depan alat-alat musik gamelan yang sedang dimainkan itu. Ia membenarkan kebaya yang menempel di badannya, kebaya putih dengan jarit coklat bercorak batik, dan nama yang tertempel di bajunya. Tak menyangka akhirnya ia menyandangnya, akhirnya ia mencapainya. Sesekali ia membenarkan posisi gelungan rambut yang ia kenakan untuk menutupi rambutnya yang sebagian sudah ada yang memutih itu.
Seseorang menepuk pundaknya pelan, membuyarkan masa lamunannya, membuyarkan masa lalunya. Orang tadi sedikit membungkukkan badannya untuk berbicara dengan wanita tadi.
“Maaf bu, sebentar lagi acaranya akan dimulai.. monggo duduk di tempat yang sudah disediakan..” salah seorang berpakaian adat jawa dengan sopan mempersilahkan wanita tadi untuk duduk di tempatnya.
“Suwun nggih mas, tolong jangan memperlakukan saya seperti pejabat, lha wong saya juga manusia biasa kok..” ramah sekali wanita tadi menyapa salah satu orang yang akan menjadi karyawan di pemerintahannya nanti. Orang tadi terlihat bingung, ia pun membungkukkan kembali badannya sebagai tanda hormatnya.
Acara pada pagi menjelang siang itu dimulai. Suara lantunan musik-musik gamelan yang dimainkan secara bersama membuat sebuah keselarasan musik yang enak di dengar dan juga lantunan tembang-tembang jawa nan merdu dari beberapa sinden menjadi pembuka dalam acara itu. Gemuruh tepuk tangan para tamu undangan melengkapi aksi pertunjukkan gamelan itu.
            Acara demi acara pun telah usai, dan sekarang pun tiba saatnya pada puncak acara, yaitu Pelantikan Bupati Blora yang baru. Seseorang yang mengenakan kebaya tadi tampak gugup dan tegang, seseorang lelaki paruh baya memperhatikannya dari tadi, ia kenal sekali dengan wanita itu. Walaupun wanita itu tampak tenang dan rileks, tetapi ia tahu bahwa wanita itu kini sedang gugup dan tegang.
            “Tenang ya Buk, jangan gugup. Sebentar lagi mimpimu akan menjadi kenyataan. Rakyatmu sudah menunggumu diluar” lelaki tadi berusaha menenangkan wanita di sampingnya yang ternyata itu adalah istrinya.
            Wanita tadi hanya menoleh sebentar dan tersenyum, dilanjutkan dengan sedikit menarik napas agar menenangkan dirinya.
            “...dan dengan ini saya nyatakan, saya melepas jabatan saya sebagai bupati Blora, dan akan menyerahkan jabatan saya kepada bupati yang baru, Ibu Alya Hapsari atas hasil dari musyawarah pemilihan rakyat. Terimakasih.”
            Suara gemuruh tepuk tangan mengiringi pelantikan jabatan bupati baru untuk wanita yang bernama Alya Hapsari itu. Kini, gadis remaja yang dulu mempunyai mimpi besar untuk kota kecilnya sudah terwujud. Kini ia sudah bergelar bupati, bupati wanita pertama di kotanya, Blora.

            ***

NB : iseng saja, sepenggal cerpen yang belum selesai -sebenarnya mampet- dibuat dari sejak jaman dahoeloe sampai sekarang belum kelar.

0 komentar:

Posting Komentar