***
Denting
suara pemukul yang bersentuhan renyah denga pentulan permukaan berwarna emas
bulat mengkilat seolah-olah membawanya kembali ke masa lalu, dimensi waktu yang
dulu pernah bergulir kini seakan dimainkan kembali di dalam trilyunan sel
seperti memutar sebuah film lawas di dalam otaknya.
Suara
indah nan merdu serasa sangat memanjakan telinga, ditambah dengan alat-alat
lainnya yang turut bersautan berlomba-lomba menampakkan dirinya bergabung
menjadi suatu keselarasan musik klasik bernama gamelan.
Ia
tengah tersenyum di depan alat-alat musik gamelan yang sedang dimainkan itu. Ia
membenarkan kebaya yang menempel di badannya, kebaya putih dengan jarit coklat
bercorak batik, dan nama yang tertempel di bajunya. Tak menyangka akhirnya ia
menyandangnya, akhirnya ia mencapainya. Sesekali ia membenarkan posisi gelungan
rambut yang ia kenakan untuk menutupi rambutnya yang sebagian sudah ada yang
memutih itu.
Seseorang
menepuk pundaknya pelan, membuyarkan masa lamunannya, membuyarkan masa lalunya.
Orang tadi sedikit membungkukkan badannya untuk berbicara dengan wanita tadi.
“Maaf
bu, sebentar lagi acaranya akan dimulai.. monggo duduk di tempat yang sudah
disediakan..” salah seorang berpakaian adat jawa dengan sopan mempersilahkan
wanita tadi untuk duduk di tempatnya.
“Suwun
nggih mas, tolong jangan memperlakukan saya seperti pejabat, lha wong saya juga
manusia biasa kok..” ramah sekali wanita tadi menyapa salah satu orang yang
akan menjadi karyawan di pemerintahannya nanti. Orang tadi terlihat bingung, ia
pun membungkukkan kembali badannya sebagai tanda hormatnya.
Acara
pada pagi menjelang siang itu dimulai. Suara lantunan musik-musik gamelan yang
dimainkan secara bersama membuat sebuah keselarasan musik yang enak di dengar
dan juga lantunan tembang-tembang jawa nan merdu dari beberapa sinden menjadi
pembuka dalam acara itu. Gemuruh tepuk tangan para tamu undangan melengkapi
aksi pertunjukkan gamelan itu.
Acara demi acara pun telah usai, dan
sekarang pun tiba saatnya pada puncak acara, yaitu Pelantikan Bupati Blora yang
baru. Seseorang yang mengenakan kebaya tadi tampak gugup dan tegang, seseorang
lelaki paruh baya memperhatikannya dari tadi, ia kenal sekali dengan wanita
itu. Walaupun wanita itu tampak tenang dan rileks, tetapi ia tahu bahwa wanita
itu kini sedang gugup dan tegang.
“Tenang ya Buk, jangan gugup.
Sebentar lagi mimpimu akan menjadi kenyataan. Rakyatmu sudah menunggumu diluar”
lelaki tadi berusaha menenangkan wanita di sampingnya yang ternyata itu adalah
istrinya.
Wanita tadi hanya menoleh sebentar
dan tersenyum, dilanjutkan dengan sedikit menarik napas agar menenangkan
dirinya.
“...dan dengan ini saya nyatakan,
saya melepas jabatan saya sebagai bupati Blora, dan akan menyerahkan jabatan
saya kepada bupati yang baru, Ibu Alya Hapsari atas hasil dari musyawarah
pemilihan rakyat. Terimakasih.”
Suara gemuruh tepuk tangan
mengiringi pelantikan jabatan bupati baru untuk wanita yang bernama Alya
Hapsari itu. Kini, gadis remaja yang dulu mempunyai mimpi besar untuk kota
kecilnya sudah terwujud. Kini ia sudah bergelar bupati, bupati wanita pertama
di kotanya, Blora.
***
NB : iseng saja, sepenggal cerpen yang belum selesai -sebenarnya mampet- dibuat dari sejak jaman dahoeloe sampai sekarang belum kelar.

0 komentar:
Posting Komentar